Mari Kuatkan Kesehatan Mental Melalui PUSPAGA untuk Resiliensi Anak Kita

Bogor, terangindonesia.id – Kesehatan mental menjadi hal pokok dalam kehidupan anak di Keluarga. Fakta kondisi orangtua, khususnya ibu dapat berpengaruh pada perkembangan anak. Anak dengan ibu yang mengalami depresi dapat mengalami hambatan perkembangan kognitif, kesulitan dalam berinteraksi sosial dan beradaptasi dengan lingkungannya yang selanjutnya dapat mempengaruhi kemampuan anak dalam melewati tahapan perkembangannya.

Oleh karena itu, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) melakukan Focus Group DiscussionPenguatan Kesehatan Mental bagi Anak dan Orang Tua di PUSPAGA yang  bertujuan memberikan penguatan terkait kesehatan mental kepada SDM Pusat Pembelajaran Keluarga (PUSPAGA).

Menurut Asisten Deputi Pemenuhan Hak Anak atas Pengasuhan dan Lingkungan, Kemen PPPA, Rohika Kurniadi Sari, PUSPAGA sebagai unit layanan Keluarga yang ada di Provinsi dan Kabupaten/Kota, yang saat ini berjumlah 197 PUSPAGA, dalam memberikan layanan edukasi bagi masyarakat, sangat penting juga melakukan Penguatan Kesehatan Mental bagi orang tua dan anak supaya orang Tua dapat memberikan pengasuhan yang layak bagi anak dan akhirnya bisa menurunkan presentase balita yang mendapatkan pola asuh tidak layak melalui penguatan kesehatan mental.

Data Susenas (2020), masih banyak balita yang memiliki pola pengasuhan tidak layak. Berdasarkan data tersebut rata-rata di Indonesia memiliki presentase sebesar 3,73 persen dimana terdapat 15 provinsi dari 24 provinsi yang memiliki pola pengasuhan dibawah rata-rata Indonesia.

Lebih lanjut, perwakilan Unicef, Nur Yasni, menyampaikan bahwa FGD yang dihadiri oleh Kementerian/Lembaga, LSM dan PUSAGA ini harapannya fokus pada kesehatan mental bagi orangtua untuk penguatan sistem perlindungan anak dan sistem layanan, lingkungan yang aman dan ramah bagi anak yang tidak bisa dilepaskan dari keluarga dan tidak bisa juga dilepaskan dari peran keluarga. Puspaga sebagai unit layanan yang strategis diharapakan nantinya mampu memberikan layanan kepada keluarga.

Sementara itu,  Fitriana Herarti, Tanoto Foundation menjelaskan bahwa kesehatan mental adalah suatu keadaan dimana seseorang tidak mengalami perasaan bersalah terhadap dirinya sendiri, memiliki penilaian diri yang realistis, dapat menerima kekurangan atau kelemahan dirinya, memiliki kemampuan membuat keputusan saat menghadapi permasalahan kehidupan, memiliki kepuasan dalam kehidupan sosialnya, serta memiliki kebahagiaan dalam hidupnya ( Pieper and Uden, 2006). Kesehatan mental anak didukung oleh kesehatan mental orang tua yang menjadi sumber dukungan pertama anak untuk menjadi mandiri dan menjalani kehidupan yang sehat dan sukses. hanya orang yang sehat mental yang bisa mengasuh anaknya.

Diakhir kegiatan, Fitriana menyampaikan rekomendasi hasil FGD untuk penguatan PUSPAGA, sebagai berikut: (1)Mengembangkan standar program layanan, yang terbagi dalam standar konten (isu dan sasaran sebagai ruang lingkup layanan) dan standar proses (mengatur penyelenggaraan layanan/SOP) berfokus pada pendekatan preventif dan promotif, bukan kuratif (dimana Idealnya anggaran tidak didasarkan pada jumlah kasus yang melakukan konseling/konsultasi, namun pada jumlah berapa orang yang bisa diedukasi (penjangkauan); (2) Mengembangkan modul-modul dan KIE yang membahas beragam isu yang menjadi ruang lingkup PUSPAGA terkait keterampilan dasar pengasuhan yang berbasis hak anak dan berdasarkan kelompok usia;, kecakapan hidup remaja, sebagai usaha preventif untuk isu narkoba, bullying, intoleransi, kekerasan, perkawinan anak, juga beri stimulasi untuk anak usia dini agar mereka dapat tumbuh kembang optimal (kognitif, bahasa, motorik, sosial emosional); ditambah dengan keterampilan teknis konselor dan pendidik sebaya untuk melakukan edukasi dan konsultasi;

Hal penting selanjutnya Mekanisme penguatan SDM ahli PUSPAGA melalui cascading approach (TOT – TOF) dengan dikombinasikan pendampingan di setiap level. Desain SDM dapat berfokus pada profesi konselor terlatih dan pendidik sebaya daripada mensyaratkan Psikolog sebagai ujung tombak layanan; (4) Mengembangkan sistem monitoring dan evaluasi layanan secara online (dashboard), pungkas Rohika. [Kemenpppa]

Leave a Reply

Your email address will not be published.