Adiyarto Sumardjono Harap Keluarga Katolik Jadi Sekolah Moderasi Beragama

Surabaya, terangindonesia.id – Pelaksana Tugas (Plt.) Dirjen Bimas Katolik A.M. Adiyarto Sumardjono mengharapkan keluarga-keluarga Katolik dapat menjadi sekolah moderasi beragama, tempat pertama seseorang belajar hidup bersama orang lain serta menerima nilai-nilai luhur dan warisan iman.

“Keluarga Katolik menjadi tempat utama, di mana doa diajarkan, perjumpaan dengan Allah yang membawa sukacita dialami, iman ditumbuhkan, dan keutamaan-keutamaan hidup ditanamkan. Itulah sekolah moderasi beragama di mana seseorang bisa mencintai Alllah dan sesama, mencintai gereja dan bangsa dengan sepenuh hati,” kata Plt. Dirjen saat membuka kegiatan Pembinaan Para Pembina Keluarga Regio Jawa di Hotel Grand Mercure Surabaya, Sabtu (12/03).

Pemerintah, jelas Plt. Dirjen, memandang keluarga fundamental dalam menyukseskan program Moderasi Beragama. Karena itu, Ditjen Bimas Katolik terus berupaya meningkatkan kualitas dan intensitas pembinaan keluarga yang menjadi salah satu program prioritas dalam Rencana Strategis Tahun 2020-2024.

“Pembinaan itu meliputi pembinaan bagi para pembina keluarga Katolik, kaum muda yang akan menjadi calon keluarga Katolik, persiapan bagi calon pasangan suami istri, pembinaan bagi keluarga yang telah menikah, dan pembinaan bagi keluarga-keluarga lanjut usia,” jelas Plt. Dirjen di hadapan 50 orang pembina keluarga di regio Jawa yang mengikuti kegiatan ini.

Dalam implementasinya, pembinaan ini dilakukan bersama dengan Gereja Katolik melalui berbagai bentuk yang sesuai dengan kebutuhan. Salah satunya lewat kerja sama penyusunan modul Pembinaan Keluarga Katolik dengan Komisi Keluarga Konferensi Waligereja Indonesia pada tahun 2020. Saat ini modul tersebut sudah diterima oleh seluruh keuskupan di Indonesia, tambah Plt. Dirjen yang akrab disapa Pak Toto.

Kerja sama itu, jelas Pak Toto, menunjukkan keseriusan Pemerintah dan Gereja untuk membangun keluarga-keluarga Katolik yang tidak saja matang dalam iman tetapi juga unggul dalam kemanusiaan.

“Iman keluarga Katolik itu harus juga dialami secara sosial melalui kepedulian terhadap orang lain, pelayanan tulus terhadap sesama, penghargaan tanpa syarat pada kemanusiaan, dan keteladanan hidup,” harap Pak Toto, sambil menekankan kualitas iman seperti itulah yang dimaksud dengan moderasi beragama yang digaungkan Kementerian Agama.

Kegiatan pembinaan selama empat hari ini juga diperkaya oleh materi yang dibawakan Direktur Urusan Agama Katolik Aloma Sarumaha, dan Kasubdit Pemberdayaan Umat Yosaphat Sadsunu Bodro. Kedua narasumber memberi gambaran dan penjelasan yang lengkap bagaimana kebijakan teknis pengelolaan urusan agama Katolik dan pelaksanaan teknis pemberdayaan umat pada Ditjen Bimas Katolik.

Peningkatan kualitas urusan agama Katolik pada keluarga, jelas Dirura Katolik, merupakan usaha yang dilakukan Pemerintah untuk memperkuat keluarga Katolik menjadi role model kehidupan sosial dalam rangka memperkokoh NKRI.

“Tercakup di dalamnya adalah penguatan eksistensi agama sebagai wadah pemersatu, pengembang (motivasi) dan pengayaan (pengembangan dan pemeliharaan) kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara untuk mewujudkan seratus persen Katolik dan seratus persen Pancasilais, dimulai dari keluarga,” kata Dirura Katolik.

Para peserta juga menimba banyak inspirasi dari narasumber lain yang hadir. Ada Sekretaris Eksekutif Komisi Keluarga KWI Romo Yohanes Aristanto Heri Setiawan, MSF, yang membawakan dengan menarik materi Pastoral Keluarga di Indonesia. Selanjutnya Ketua Komisi Keluarga Keuskupan Surabaya Romo Agustinus Tri Budi Utomo, yang menjelaskan dengan komprehensif pandangan teologis dan ajaran Kitab Suci tentang perkawinan Katolik serta pemberdayaan ekonomi keluarga dan pendidikan Katolik.

Dari sisi hukum Gereja, Tribunal Keuskupan Surabaya Romo Laurensius Rony, menjelaskan dengan sangat rinci terkait ajaran gereja Katolik mengenai hukum dan moral perkawinan. Narasumber lain adalah Psikolog Universitas Surabaya Andrian Pramadi, yang menjelaskan bagaimana moderasi beragama diintegrasikan dalam kerangka pembinaan keluarga.

Dari perspektif kesehatan, Dokter Rumah Sakit Katolik Santo Vincentius Paulo Surabaya, Triagung Ruddy, menjelaskan bagaimana pendidikan kesehatan dalam membangun keluarga yang bebas dari stunting. Tema ini menarik karena menjadi perhatian utama Presiden Joko Widodo yang sudah menginstruksikan seluruh jajarannya untuk menurunkan angka stunting di Indonesia menjadi 14 persen pada 2024, turun dari 24,4 persen yang dicatat pada 2021. [DirjenBimasKatolik]

Leave a Reply

Your email address will not be published.