Hati Gembira Saat Badai Covid

“Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang.” Amsal 17:22
Istri saya beberapa waktu lalu badannya demam, dan badannya pegal-pegal. Kami tes PCR untuk memastikan apakah terpapar Covid atau tidak. Setelah keluar hasilnya, ternyata istri saya negatif, justru saya yang positif. Angka CT saya 33,5 artinya OTG (orang terpapar Covid tapi tanpa gejala), karena saya memang tidak demam atau menunjukkan gejala covid lainnya. Secara klinis, saya kecil sekali menularkan Covid pada orang lain, namun tetap disarankan isoman 5 hari.
Pada masa pandemi seperti saat ini, yang perlu kita lakukan selain berusaha mendapatkan vaksin, adalah menjaga stamina tubuh. Agar kalau pun terpapar, dampaknya tidak parah. Vitamin D , Vitamin C serta makanan sehat harus dikonsumsi rutin secara cukup. Olah raga ringan setiap hari, supaya tubuh tetap bugar. Namun kita tahu kesehatan bukan hanya tergantung fisik yang sehat semata, namun juga jiwa yang sehat.
Hati yang gembira berakibat jiwa sehat, yaitu hati yang tidak kuatir. Tentu ini sangat susah, apalagi kita saat ini diperintahkan “lockdown”, padahal dengan lockdown terlalu lama akan berakibat ”deathlock_, sumber keuangan habis. Sebuah kenyataan yang tidak mudah, lalu bisakah kita tetap bergembira ?
Solusinya bagaimana? Rasionalitas. Supaya tidak dikuasai ketakutan, yang pertama kita harus tetap memakai akal sehat kita. Sebagai contoh, berapa persen rata-rata dari yang terpapar akan sembuh. Dari data statistik selama ini lebih dari 95 persen yang terpapar akan sembuh.
Lalu Spiritualitas, banyak orang beranggapan jika Rasionalitas dan Spiritulitas adalah dikotomi yang tak bisa dipersatukan. Dokter sering memberikan kesaksian bahwa orang yang cepat sembuh adalah orang yang sakit tapi tetap bersemangat dan punya harapan. Seperti bacaan di atas ”hati yang gembira adalah obat yang manjur” terbukti secara ilmiah.
Hanya pada Allah saja kiranya aku tenang, sebab dari pada-Nyalah harapanku. Hanya Dialah gunung batuku dan keselamatanku, kota bentengku, aku tidak akan goyah. Pada Allah ada keselamatanku dan kemuliaanku; gunung batu kekuatanku, tempat perlindunganku ialah Allah.
Percayalah kepada-Nya setiap waktu, hai umat, curahkanlah isi hatimu di hadapan-Nya; Allah ialah tempat perlindungan kita (Mazmur 62:5-8). Inilah nasehat Raja Daud yang mempunyai pengalaman dekat dengan Tuhan sebagai kunci harapan, di tengah kesesakan, karena Tuhan tempat perlindungan. Salam Gembira dan Sehat selalu di tengah Badai Covid! [DD]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Alasan Pujian

“Pujilah Dia karena segala keperkasaan-Nya, pujilah Dia sesuai dengan kebesaran-Nya yang hebat!” Mazmur 150:2 Kitab Mazmur diakhiri dengan puji-pujian yang megah kepada Allah yang hebat. Itulah yang tertulis di pasal terakhir di Mazmur 150. Ayat 1 diawali dengan kata “HALELUYA” yaitu sebuah ekspresi pujian yang khas kepada Allah serta perintah untuk memuji Tuhan dalam cakrawalanya […]

Read More

Giannis yang Manis

“Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal” Ayub 42:2 Setiap orang memiliki kehidupan yang berbeda. Jalan kehidupan setiap orang juga berbeda. Kita tak dapat menilai kehidupan seseorang dari masa lalunya. Bahkan kita juga tak berhak mengambil kesimpulan tentang kehidupan semua orang berdasarkan kebiasaan masa lalunya. Mengapa demikian? Sebab […]

Read More