Giannis yang Manis

“Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal” Ayub 42:2
Setiap orang memiliki kehidupan yang berbeda. Jalan kehidupan setiap orang juga berbeda. Kita tak dapat menilai kehidupan seseorang dari masa lalunya. Bahkan kita juga tak berhak mengambil kesimpulan tentang kehidupan semua orang berdasarkan kebiasaan masa lalunya. Mengapa demikian?
Sebab setiap orang diberi kesempatan oleh TUHAN untuk berubah. Selama kita masih hidup, masih ada kesempatan untuk berubah. Demikian pula dengan seorang pria yang bernama Giannis Antetokounmpo. Mungkin sebagian besar dari anda tidak mengenal dia. Giannis yang lahir di Athena, Yunani pada tanggal 6 Desember 1994 adalah seorang pebasket setinggi 2,11 meter berkebangsaan Yunani dan memenangkan NBA Championship 2021 bersama Milwaukee Bucks. Apa yang bisa kita pelajari dari kehidupan Giannis ini?
Mari kita belajar dari kehidupan Giannis. Yang pertama, masa lalu bukan penentu masa depan. Masa kecil Giannis dihabiskan dengan perihnya kehidupan di bawah garis kemiskinan. Ia pernah merasakan kelaparan saat menjalani kehidupan di Yunani. Orang tua Giannis adalah imigran dari Nigeria yang tinggal di Yunani. Bersama kakaknya yang bernama Thanasis, ia harus membantu ekonomi keluarga sejak masa kecil mereka dengan menjual jam tangan, tas dan kacamata di pinggir jalan. Upaya mereka berdua rupanya tidak terlalu membantu ekonomi keluarganya.
Ada saatnya mereka mengalami kelaparan karena tidak ada makanan di rumah mereka, bahkan harus menjual barang yang ada di rumah agar mereka sekeluarga bisa makan. Keadaan mereka diperparah karena adanya xenophobia (ketakutan terhadap orang-orang dari negara lain atau yang dianggap asing) di Yunani saat itu. Apakah mereka tetap hidup dalam kemiskinan? Tentu tidak.
Yang kedua, selalu ada kesempatan untuk berubah. Ternyata ada kelebihan yang menjadi sarana mereka keluar dari kemiskinan. Giannis yang memiliki ukuran tubuh yang jauh lebih tinggi di atas rata-rata membuatnya berkenalan dengan dunia olahraga. Awalnya ia bermain sepakbola. Namun pada tahun 2008 di usia 13 tahun, Giannis ditemukan oleh Spiros Velliniatis yang merupakan pelatih basket dari tim lokal Filathlitikos untuk menjadi pemain bola basket. Karir Giannis mulai menanjak sehingga ia masuk tim senior di klub basket di Filathlitikos (2011-2013). Pada awal musim pertandingan NBA tahun 2013, Milwaukee Bucks merekrutnya pada NBA Draft.
Sekalipun Giannis tidak memiliki kewarganegaraan sejak masa kecil, namun akhirnya ia mendapatkan surat kewarganegaraan Yunani sebelum ia direkrut oleh Bucks. Mari belajar melihat masalah kehidupan sebagai kesempatan untuk mengubah kehidupan kita.
Yang ketiga, pertahankan dan kembangkan kehidupan yang benar. Di tahun 2013 keadaan Giannis belum seperti sekarang di mana ia meraih juara NBA 2021 dan menjadi MVP Regular Musim dan MVP Final serta pemain bertahan terbaik.
Saat itu ia masih harus berjalan atau berlari dari tempat tinggalnya di Lake Drive sejauh 11 km untuk berlatih dan bertanding basket di Bradley Center karena keuangannya masih minim sekali. Saat ini kontrak barunya di Bucks bernilai Rp 661 Miliar per tahun atau Rp 3,3 Triliun untuk 5 tahun (2020-2025).
Banyak orang mulai mengenal Giannis yang manis dan berjuluk ‘Greek Freak’ ini. Apa yang menjadi kelebihan dan nilai positif dalam hidup anda? Pertahankan, kembangkan dan maksimalkan dengan benar dari sekarang. [DW]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Alasan Pujian

“Pujilah Dia karena segala keperkasaan-Nya, pujilah Dia sesuai dengan kebesaran-Nya yang hebat!” Mazmur 150:2 Kitab Mazmur diakhiri dengan puji-pujian yang megah kepada Allah yang hebat. Itulah yang tertulis di pasal terakhir di Mazmur 150. Ayat 1 diawali dengan kata “HALELUYA” yaitu sebuah ekspresi pujian yang khas kepada Allah serta perintah untuk memuji Tuhan dalam cakrawalanya […]

Read More

Hati Gembira Saat Badai Covid

“Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang.” Amsal 17:22 Istri saya beberapa waktu lalu badannya demam, dan badannya pegal-pegal. Kami tes PCR untuk memastikan apakah terpapar Covid atau tidak. Setelah keluar hasilnya, ternyata istri saya negatif, justru saya yang positif. Angka CT saya 33,5 artinya OTG (orang terpapar Covid […]

Read More